OGAN KOMERING ILIR I KABARINTICOM I Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi upaya meningkatkan kualitas gizi anak justru mendapat sorotan setelah puluhan siswa di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan yang disediakan dalam program tersebut, pada Jum’at (24/72026)
Berdasarkan informasi, sebanyak 38 siswa dari sekolah lokal yakni, SDN 1 Bandar Jaya, MI Nurul Huda, dan SMPN 1 Bandar Jaya diduga mengalami keracunan. Tidak lama setelah menyantap menu MBG puluhan siswa tersebut mengalami keluhan seperti mual, muntah, dan sakit perut Mereka kemudian mendapat penanganan dari fasilitas kesehatan setempat.
Menu yang disajikan terdiri atas nasi putih, ayam goreng, tumis wortel dan kacang, tahu isi wortel, sambal, serta buah salak. Secara kasat mata makanan tampak dalam kondisi normal. Namun, menurut keterangan sejumlah siswa, lauk ayam yang disajikan mengeluarkan aroma yang tidak biasa.
Untuk memastikan penyebab kejadian, petugas kesehatan telah mengambil sampel makanan dan mengirimkannya ke laboratorium di Palembang. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi pada salah satu menu yang dikonsumsi.
Pimpinan Puskesmas Bandar Jaya, Sentot, S.KepĀ Ners, mengatakan seluruh siswa yang sebelumnya mendapatkan penanganan medis kini sudah semakin membaik, dan pihaknya terus melakukan pemantauan guna memastikan tidak ada keluhan lanjutan.”Alhamdulillah, seluruh siswa yang mendapat penanganan medis, kini kondisinya semakin membaik, dan terus kita pantau supaya tidak ada keluhan lanjutan,” ujar Sentot, Sabtu (25/7)
Sementara itu, Pengawas Gizi SPPG Desa Bandar Jaya, Agus Riswanto, menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan pihak penyelenggara selama ini telah berupaya menerapkan prosedur penyediaan makanan bergizi sesuai ketentuan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan, tetapi juga dari jaminan keamanan pangan yang diterima setiap anak. Program yang membawa nama “bergizi” semestinya tidak menyisakan kekhawatiran bagi orang tua akibat dugaan makanan yang justru membahayakan kesehatan.
Pemerintah dan seluruh penyelenggara perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga penyajian makanan. Pengawasan yang hanya bersifat administratif tidak cukup apabila aspek keamanan pangan masih menyisakan celah.
Publik kini menunggu hasil uji laboratorium secara terbuka dan transparan. Jika terbukti terdapat kelalaian, maka evaluasi dan penegakan tanggung jawab harus dilakukan secara tegas. Sebaliknya, apabila penyebabnya bukan berasal dari makanan MBG, hasil tersebut juga harus disampaikan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan preseden buruk bagi program MBG.itu sendiri. (DS).


Komentar